Timun Mas

Timun Mas (Jawa Tengah)

timun_mas_12_by_tuankacang-d56wny4

sumber foto: google

Alkisah, hidup sepasang suami istri yang belum saja dikaruniai seorang anak. Mereka sebagai petani, yang hidup bahagia di desa dekat hutan.

Setiap hari mereka berdoa kepada Yang Maha Kuasa. Berharap dikaruniai seorang anak.

Tiba-tiba seorang raksasa melewati tempat tinggal mereka. Ketika sepasang suami istri berdoa, raksasa datang mengejutkan. Raksasa mendengar doa suami istri itu. Lalu, raksasa itu memberikan biji mentimun.

“Tanamlah biji mentimun ini. Rawatlah dengan teratur! Kau akan mendapatkan seorang anak perempuan.” kata raksasa. “Terima kasih raksasa, terima kasih.” ucap suami istri itu. “Tapi, ada syaratnya.” sahut raksasa bersuara keras.

Suami istri itu sangat senang. Ketika raksasa mengatakan syaratnya, suami istri itu sepakat tanpa berpikir panjang.

“Saat ia berusia 17 tahun, kalian harus menyerahkannya padaku.” imbuh raksasa.

Suami istri itu menanam biji-biji mentimun dan merawatnya. Setiap hari, mereka menjaga dan merawat biji-biji mentimun hingga tumbuh besar. Berbulan-bulan lamanya, sebuah mentimun berwarna keemasan.

Biji mentimun itu semakin membesar dan berat. Buah itu hingga masak dan mereka memetiknya.

Perlahan-lahan buah itu dibuka. Alangkah terkejutnya mereka saat membuka buah mentimun keemasan itu.

Suami istri itu sangat senang. Mereka merasa bahagia dan bersyukur atas apa yang didapat. Seorang bayi perempuan di dalam Buah Mentimun, yang diharapkan telah mereka dapatkan. Ia dipanggil “Timun Mas”, nama yang diberikan oleh suami istri tersebut.

Bertahun-tahun, suami istri itu tinggal bersama Timun Mas. Mereka menjadi keluarga kecil yang bahagia. Timun Mas bermain dan menjalani kehidupan bersama kedua orang tuanya.

Suatu hari, saat ia telah menjadi seorang gadis cantik berusia 17 tahun. Raksasa menemui orangtuanya. Akan tetapi, ayah Timun Mas menjawab dengan tenang bahwa belum dapat memberikannya, karena Timun Mas masih bersenang-senang. Raksasa tidak terima dan menghancurkan pondok petani.

Tidak lama kemudian, raksasa kembali meminta Timun Mas. Orang tua Timun Mas meminta sedikit waktu lagi untuk bersama Timun Mas yang sedang bermain. Raksasa tidak  mengizinkan dan memaksa untuk bertemu Timun Mas. Kedua orang tua Timun Mas sangat sedih melepaskan anaknya yang telah lama diharapkan.

Ayah Timun Mas pun memanggil Timun Mas. Ia memberikan kantung kain dan berbisik sesuatu kepada anaknya.

“Ambillah kantung ini, bawalah.” kata ayah. “Berlarilah secepatnya.” bisik ayah Timun Mas. Timun Mas telah menggenggam kantung kain itu maka berlarilah dia secepat mungkin.

Raksasa itu mengetahui bahwa Timun Mas berlari menghindarinya. Raksasa berlari mengejarnya ke hutan.

Raksasa berlari hingga hampir mendekat, Timun Mas segera membuka kantung kain dan mengambil segenggam garam. Ia taburkan ke arah raksasa. Tiba-tiba sebuah laut yang luas terhampar. Raksasa terpaksa berenang sebisanya.

Timun Mas terkejut oleh kekuatan raksasa. Raksasa sungguh kuat, ia bangun dan kembali mengejar Timun Mas.

Timun Mas sungguh ketakutan. Ia mengambil segenggam cabai dari kantung kain dan menghamburkan ke arah raksasa. Seketika pohon, ranting, dan duri tajam terbentuk dan memerangkap raksasa. Timun Mas yang menghamburkan cabai itu, tidak menghiraukan raksasa yang berteriak, karena raksasa ingin melahapnya.

Timun Mas dikejutkan lagi oleh kekuatan raksasa. Timun Mas berlari lebih kencang. Raksasa itu membuat Timun Mas sangat ketakutan. Gadis cantik itu mengeluarkan biji-biji mentimun ajaib dari kantung kain.

Raksasa sangat mudah dipengaruhi. Ia tertidur pulas, setelah memakan biji-biji mentimun itu.

Akan tetapi, Timun Mas yang telah kelelahan terus dikejutkan oleh kekuatan raksasa yang hendak memangsanya. Raksasa terbangun dan mengejar Timun Mas yang hampir tertangkap olehnya.

Hanya satu benda ajaib yang tersisa di kantung kain yaitu segenggam terasi udang. Gadis cantik itu segera melemparkan terasi udang ke arah raksasa.

Terulang kembali, hal ajaib telah dialami Timun Mas. Sebuah danau lumpur yang luas menarik raksasa. Hampir saja Timun Mas ditarik olehnya. Raksasa tidak bisa menggapai daratan. Ia tenggelam ke dalam danau lumpur.

Akhirnya, Timun Mas merasa legah. Ia bersama kedua orang tuanya berkumpul dan sangat bersyukur. Mereka hidup bahagia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s