Asal-Usul Kota Surabaya

Pada sebuah kerajaan Jawa Timur, tinggallah raja yang tengah berkuasa. Dahulu, Raden Wijaya adalah raja pertama Kerajaan Majapahit. Kekuasaannya terbentang luas hingga jauh ke wilayah utara.

Suatu hari, Raden Wijaya memerintah dan menempatkan seseorang yang dipercayainya. Orang kepercayaan raja akan menjadi adipati di wilayah utara, yang berkedudukan di Ujung Galuh. Kawasan itu, yang diharapkan mengalami kemajuan.

“Adipati Jayengrono, kau kuperintahkan untuk memimpin di Ujung Galuh.” tegas Raja. Atas izin raja, Adipati Jayengrono melaksanakan perintah.

Pagi dan malam terus bergilir. Adipati Jayengrono berjuang memimpin kawasan Ujung Galuh hingga terwujudnya harapan sang raja, kawasan itu telah berkembang pesat. Kawasan di bawah kepemimpinan Adipati Jayengrono menjadi strategis, makmur, dan dikenal masyarakat luas.

“Yaaaaaak…. hyiaaahh… haaak…! Hiaaaa…. Haaaaaak!” Adipati Jayengrono terus melatih kemampuan bela dirinya.

Ujung Galuh telah dikenal masyarakat luas dan semakin membaik maka Adipati Jayengrono menjadi terkenal. Ia disegani oleh masyarakat, karena kemampuannya, ia pun dikagumi oleh masyarakat. Akan tetapi, hal itu mengubah sikap Adipati Jayengrono. Mendadak, Adipati Jayengrono menjadi sombong.

Sebuah pertemuan besar yang mengundang seluruh pejabat istana. Sang raja tak bertemu adipati Jayengrono.

“Tuanku. Beberapa bulan ini, Adipati Jayengrono tidak menghadap dan tidak menyerahkan upeti seperti biasanya,” kata Patih Majapahit.

Raja menjawab, “Aku dengar, dia semakin sakti. Tidak ada yang bisa melawannya.” Sang raja terlihat cemas mengetahui perubahan Adipati Jayengrono.

“Hamba dengar, ada seorang pemuda sakti bernama Sawunggaling. Baginda perintahkan saja dia untuk mengalahkan adipati yang sombong itu,” kata Patih Majapahit.

Mendengar saran itu, Raden Wijaya segera memerintahkan Sawunggaling untuk menghadapi Adipati Jayengrono. Sawunggaling menerima dan melaksanakan perintah dengan patuh. Tak lama menunggu maka berangkatlah Sawunggaling menuju Ujung Galuh.

Sawunggaling dan Adipati Jayengrono bertempur di pinggir Kali Mas. Pertempuran itu berlangsung sengit.

“Hyiaaaah… yaaaak… hyiaah…! Hiaaa… Haaaaak…! Wuaaaa…. Hiaaa… Hiaaak…! Haaaak…!”

Adipati Jayengrono dan Sawunggaling mengeluarkan semua ilmu saktinya.  Adipati Jayengrono memiliki ilmu Buaya dan Sawunggaling memiliki ilmu Sura.

Adipati Jayengrono dan Sawunggaling bertempur terus-menerus. Mereka saling menyerang, tiada yang menyudahi pertempuran hingga akhirnya tiada penentuan kalah dan menang.

Tidak ada yang kalah atau menang dalam peristiwa yang berlangsung selama tujuh hari. Setelah pertempuran itu, keduanya tewas.

Pertarungan antara Adipati Jayengrono dan Sawunggaling itu ditandai dengan menggunakan ilmu mereka. Ilmu Sura dan Buaya (dalam bahasa Jawa disebut “Boyo”) maka wilayah itu disebut “Surabaya”.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s